Kita tahu di zaman era globalisasi ini merupakan zaman yang modern, semua serba canggih apalagi sejak munculnya " internet ". Kita dapat mengakses semua data lewat internet, sehingga komunikasi lebih mudah ditemukan dengan siapa saja, apalagi dalam kalangan remaja . Para remaja kini tidak hanya berkomunikasi dengan lewat surat kabar, surat menyurat, televisi & handphone .Tapi kini zaman sudah maju Internet-lah yang lebih maju daripada alat komunikasi lainnya. Internet lebih mudah diakses setiap saat.Di dalam program internet juga ada e-mail yang dapat kita lakukan dengan siapa saja ,kapan saja, dan dimana saja.
Dengan berkomunikasi kita juga dapat mengubah etika kita dalam kebiasaan sehari-hari. Seperti halnya kita yang semula pendiam, setelah kita mengetahui internet kita menjadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang internet dan ingin mengetahui tenteng dunia luar yang sebelumnya belum kita kenal. Maka, dengan itulah kita kita tahu bahwa berkomunikasi dapat mempengaruhi etika seseorang. Jika kita menggunakan alat komunikasi dengan baik, etika kita juga akan menjadi lebih baik, tapi sebaliknya jika kita menggunakan tidak sebaik-baiknya, etika kita akan berubah menjadi tidak biasanya dan berubah menjadi yang tidak baik. Kita sebagai remaja yang aktif, dalam berkomunikasi kita harus menggunakan media komunikasi dengan sebaik-baiknya. Agar, kita tidak terpengaruh dengan dunia-dunia negatif yang ada di luar sana. Kita harus memanfaatkan media komunikasi untuk menambah ilmu pengetahuan, agar kita menjadi lebih baik dari sebelumnya dan kita harus mencari tahu hal-hal yang belum kita tahu . Agar, kita menjadi tahu pengetahuan-pengetahuan baru yang nantinya dapat bermanfaat bagi kita.
Para astronom amatir di seluruh dunia saat ini memperhatikan perubahan yang sama pada Saturnus: Cincin Saturnus yang lebar menipis menjadi garis tipis. Efrain Morales Rivera mengirimkan gambar berikut yang diambil dari halaman belakang rumahnya di Aguadilla, Puerto Rico.
Cincin-cincin Saturnus telah menipis sekali dalam setahun ini”, katanya. Daerah Cassini atau Cassini Division (suatu daerah gelap dalam cincin Saturnus yang dinamakan Cassini) mulai sulit diamati. Fenomena yang sama terjadi empat ratus tahun lalu dan sempat memusingkan Galileo, sebagai orang pertama yang pada tahun 1610 menemukan cincin-cincin Saturnus melalui teropong primitifnya. Dia sangat tercengang ketika mendapati cincin-cincin tersebut menyempit sedikit setahun berikutnya.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Sekarang, kejadian yang sama adalah: kita mengalami suatu “pelintasan bidang cincin” (ring plane crossing). Ketika sedang dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, Saturnus membelokkan cincinnya menjadi sejajar dengan garis pandang dari Bumi (edge-on) setiap 14-15 tahun sekali. Karena cincinnya yang sangat tipis, mereka bisa tidak teramati jika dilihat melalui teleskop kecil.
Dalam bulan-bulan berikut ini, cincin Saturnus akan menjadi semakin tipis sampai akhirnya mereka “hilang” pada 4 September 2009 nanti. Ketika hal ini terjadi pada 1612, Galileo mengabaikan studinya akan planet. Padahal, kita ketahui kemudian, saat-saat “pelintasan bidang cincin” seperti ini merupakan waktu yang baik untuk menemukan satelit-satelit dan cincin luar Saturnus yang baru. Selain itu, saat demikian juga merupakan waktu yang baik untuk melihat kutub utara Saturnus yang biru. Pada tahun 2005, wahana antariksa Cassini terbang di atas belahan utara Planet Saturnus dan menemukan bahwa langit di sana sebiru langit Bumi sendiri. Selama bertahun-tahun, hanya Cassini yang bisa menikmati pemandangan ini, karena dari Bumi, bagian atas Saturnus yang biru tertutupi oleh cincin-cincin Saturnus.
Galileo sendiri tidak pernah memahami sifat dasar alamiah dari cincin-cincin Saturnus. Dia tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya merupakan kumpulan satelit-satelit kecil yang mengorbit dalam bidang orbit piringan, berukuran dari debu hingga sebesar bulan kita (Kemungkinan cincin-cincin ini merupakan debris atau puing-puing dari satelit yang hancur, tetapi para ilmuwan sendiri masih belum yakin benar akan hal ini). Melalui teleskop abad 17-nya, cincin tersebut lebih menyerupai telinga atau semacam cuping planet.
Meskipun demikian, intuisinya mengarahkan Galileo untuk membuat prediksi yang tepat, bahwa cincin-cincin yang hilang ini akan kembali. Dan dia benar. Cincin Saturnus kembali tampak, dan para ilmuwan menyimpulkan penelitiannya. Pada tahun 1659, secara tepat Christiaan Huygens menjelaskan peristiwa menghilangnya cincin yang periodik selama terjadinya “pelintasan bidang cincin” atau “ring plane crossing” ini. Pada tahun 1660, Jean Chapelain mengatakan bahwa cincin Saturnus bukan merupakan benda padat, tetapi terbuat dari partikel-partikel kecil yang sangat banyak dan masing-masing mengorbit Saturnus secara independen. Selama dua ratus tahun, usulannya sempat tidak diterima secara luas, sebelum ternyata terbukti benar.
Cincin-cincin Saturnus sangat lebar tetapi juga sangat tipis. Para astronom menggunakan Teleskop Hubble untuk menangkap citra Saturnus dengan posisi cincin datarnya ini (edge-on) pada tahun 1995. Obyek terang seperti bintang pada bidang cincin yang terlihat pada gambar merupakan satelit-satelit es. Kredit Gambar : NASA
CINCIN BARU SATURNUS
Gambar yang diambil oleh wahana antariksa Cassini pada 17 September lalu menunjukkan suatu cincin baru di sekeliling planet Saturnus. Kamera Cassini juga menangkap pemandangan spektakuler lainnya berupa kabut dari material es yang terlontar dari Enceladus, salah satu bulan Saturnus, hingga mencapai cincin E Saturnus. Material itu diduga berasal dari geyser di kutub selatan Enceladus.
Gambar-gambar ini didapat dengan memanfaatkan momen terjadinya okultasi, dimana saat itu Cassini berada di salah satu sisi Saturnus sementara Matahari berada di sisi sebaliknya. Peristiwa ini normalnya hanya berlangsung selama satu jam, namun okultasi kali ini berlangsung selama 12 jam.
Cahaya latar dari matahari yang dipantulkan oleh cincin saturnus saat terjadinya okultasi memungkinkan Cassini untuk memetakan keberadaan partikel mikroskopis di sepanjang sistem cincin yang biasanya tidak terlihat. Dengan demikian, para astronom kini memperoleh pengelihatan yang paling jelas dari sistem bagian dalam Saturnus, termasuk keberadaan cincin baru tersebut. Peristiwa ini juga memberikan kesempatan bagi para astronom untuk melihat keseluruhan cincin E, dimana sebelumnya untuk itu diperlukan pengambilan beberapa citra terpisah.
Kabut es terlontar dari Enceladus
Sistem cincin Saturnus terbagi menjadi 7 bagian, masing-masing dinamai dengan huruf alfabet. Pembagian tersebut, mulai dari cincin terdalam sampai yang paling luar, adalah: D, C, B, A, F, G dan E. Cincin baru yang ditemukan adalah sebuah fitur samar yang terletak diluar cincin utama yang lebih cemerlang, diantara cincin G dan E.
Cincin tersebut berhubungan dengan orbit bulan Saturnus, Janus dan Epimetheus. Para ilmuwan memperkirakan benturan meteorit pada kedua bulan tersebut dapat melontarkan partikel-partikel dan mengirimnya ke orbit Saturnus. Namun temuan adanya struktur cincin yang terpisah di daerah itu merupakan hal yang mengejutkan bagi mereka.
Penemuan cincin baru maupun struktur cincin E tersebut diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana sebuah bulan dapat melepaskan partikel-partikel kecil dan ikut membentuk lingkungan di sekitarnya. (saturn.jpl.nasa.gov)
Tidak perlu bersedih hati dengan “musibah hilangnya” cincin Saturnus ini. Saturnus masih merupakan obyek yang indah untuk dilihat melalui teleskop yang kecil sekalipun. Malah, minggu ini sebenarnya merupakan minggu yang baik untuk mengamati Saturnus. Pada Selasa, 18 Maret dan Rabu, 19 Maret, Bulan yang hampir purnama dan Saturnus akan berada satu garis pada bagian yang sama di langit senja. Hal ini membuat Saturnus menjadi mudah dicari, tidak seperti biasanya. Setelah Matahari terbenam, lihatlah daerah sdi ekeliling Bulan, dan voila! Saturnus terlihat seperti “bintang emas” terang di dekat Bulan. Jika Anda melewati momen 18-19 Maret ini, coba lihat kembali 14-15 April. Bulan dan Saturnus akan berada berdekatan dan cincin Saturnus bahkan menjadi lebih sempit.
Original Caption Released with Image:
The 60th moon of Saturn reveals itself in a sequence of images. The discovery suggests that the new moon, along with its neighbors Methone and Pallene (discovered by the Cassini imaging team in 2004), may form part of a larger group of moons in this region. The movie spans six hours.
Initial calculations show the moon to have a width of approximately 2 kilometers (1.2 miles), with an orbit that lies between those of the moons Methone and Pallene. The moon's orbit is in resonance with another moon, Mimas, also seen in this sequence as a very bright, moving object. The new moon's location is indicated by a red box.
The (narrow) ring visible in the images is the G ring, and the G ring arc passes through the field of view during the course of the movie. Calypso, a Trojan moon of Tethys, is also visible in the sequence. Trojan moons are found near gravitationally stable points ahead or behind a larger moon.
This view looks toward the non-illuminated side of the rings from about 3 degrees above the ringplane.
The series of images was taken in visible light with the Cassini spacecraft wide-angle camera on May 30, 2007, at a distance of approximately 1.76 million kilometers (1.09 million miles) from Saturn. Image scale is about 105 kilometers (65 miles) per pixel. The ghostly shape that stretches across the scene results from scattered light within the camera optics.
The Cassini-Huygens mission is a cooperative project of NASA, the European Space Agency and the Italian Space Agency. The Jet Propulsion Laboratory, a division of the California Institute of Technology in Pasadena, manages the mission for NASA's Science Mission Directorate, Washington, D.C. The Cassini orbiter and its two onboard cameras were designed, developed and assembled at JPL. The imaging operations center is based at the Space Science Institute in Boulder, Colo.